Yogyakarta, zekriansyah.com – Dunia UFC selalu penuh dengan bintang-bintang sangar, tapi belakangan ini, ada satu nama yang terus disebut-sebut dengan nada kagum sekaligus gentar: Khamzat Chimaev. Petarung berjuluk “Borz” atau “Serigala” ini baru saja mengukir sejarah dengan merebut sabuk juara kelas menengah UFC di UFC 319. Tapi yang lebih menarik, reputasinya sebagai petarung paling menakutkan di UFC membuat banyak pihak berspekulasi, konon, para juara lain pun diklaim ogah berhadapan dengannya.
Khamzat Chimaev, sang juara kelas menengah UFC yang belum terkalahkan, semakin mengukuhkan reputasinya sebagai petarung paling ditakuti di octagon, dengan banyak rival yang disebut-sebut enggan berhadapan dengannya.
Lewat artikel ini, mari kita selami lebih dalam mengapa Khamzat Chimaev begitu disegani, bagaimana ia meraih gelarnya, dan drama-drama yang mengiringi perjalanannya. Siap-siap, karena cerita tentang “Serigala” ini jauh dari kata membosankan!
Mengapa Khamzat Chimaev Dijuluki ‘Serigala’ yang Menakutkan?
Khamzat Chimaev bukan sekadar petarung biasa. Ia adalah anomali di oktagon, sebuah kekuatan alam yang sulit dihentikan. Dengan rekor tak terkalahkan 15-0, Chimaev menunjukkan dominasi yang brutal dan efisien dalam setiap pertarungan. Gaya bertarungnya yang agresif, mengandalkan takedown cepat dan ground and pound yang menghancurkan, membuatnya dijuluki “Serigala” dari Chechnya.
Ia mampu mengontrol lawan dengan sangat presisi, seringkali menghabiskan sebagian besar waktu pertarungan dalam posisi dominan di bawah. Ini bukan cuma soal menang, tapi tentang cara ia mengalahkan lawan: tanpa ampun dan tanpa celah. Keahlian gulat kelas dunianya adalah momok bagi siapa pun yang berani berbagi oktagon dengannya.
Perjalanan Menuju Sabuk Juara Kelas Menengah UFC 319
Puncak karir Chimaev sejauh ini adalah kemenangannya di UFC 319 pada Minggu, 17 Agustus 2025, di United Center, Illinois. Ia berhasil menaklukkan juara bertahan, Dricus du Plessis, dalam pertarungan lima ronde yang penuh ketegangan.
Chimaev tampil sangat dominan. Ia berhasil mendaratkan 12 takedown dan mengontrol Dricus du Plessis selama 21 menit 40 detik dari total 25 menit pertarungan. Bahkan, ia sempat mencatat satu ronde dengan skor 10-8, menunjukkan betapa mutlaknya kendalinya. Pada akhirnya, Chimaev dinyatakan menang melalui keputusan mutlak (50-44).
Berikut adalah gambaran singkat statistik dominasi Chimaev di UFC 319:
Kategori | Khamzat Chimaev | Dricus du Plessis |
---|---|---|
Waktu Kontrol | 21 menit 40 detik | Kurang dari 4 menit |
Serangan Dilancarkan | 529 | 45 |
Takedown Berhasil | 12 | 0 |
Kemenangan ini tidak hanya memberinya sabuk juara kelas menengah UFC, tetapi juga melambungkan namanya ke jajaran petarung dengan bayaran tertinggi. Bayarannya melonjak tajam, diproyeksikan mencapai USD 1,55 juta hingga USD 2,3 juta (sekitar Rp 25-37,8 miliar) untuk duel ini.
Drama di Luar Oktagon: Ancaman dan Rivalitas Panas
Reputasi Khamzat Chimaev sebagai “Serigala” tidak hanya terbentuk di dalam oktagon, tetapi juga dari tingkah lakunya di luar arena. Ia dikenal sebagai sosok yang penuh gairah dan terkadang kontroversial. Salah satu insiden yang sempat heboh adalah permusuhannya dengan mantan juara, Sean Strickland.
Pada Desember 2024, kekesalan Chimaev memuncak setelah keinginannya untuk melawan Strickland tidak terwujud. Ia bahkan sempat mengirimkan sebuah ancaman mengejutkan berupa foto dirinya memegang pistol dengan pesan singkat, “Di mana kamu?”. Meski dikirim ke akun media sosial yang salah, ancaman tersebut langsung viral dan menambah kesan “ngeri” pada dirinya. Padahal, kedua petarung ini sebelumnya pernah berlatih bersama. Strickland sendiri mengungkapkan bahwa Chimaev salah menafsirkan komentarnya tentang Chechnya, kampung halaman Chimaev.
Tantangan di Depan: Siapa yang Berani Melawan ‘Borz’?
Dengan sabuk juara kelas menengah UFC melingkar di pinggangnya, pertanyaan selanjutnya adalah: siapa yang akan menjadi penantang berikutnya? Sentimen bahwa “semua diklaim ogah” melawan Chimaev mungkin terdengar berlebihan, namun tidak sepenuhnya salah. Banyak petarung pasti berpikir dua kali untuk menghadapi gaya gulatnya yang berbahaya dan kekuatan pukulannya.
Sebelum pertarungan UFC 319, Dricus du Plessis sempat mengklaim bahwa ia siap menghadapi Chimaev atau siapa pun. Ia bahkan dengan percaya diri menyatakan, “Saya tidak akan membiarkan Anda tampil bagus. Saya bisa membiarkan Anda tampil bagus, tetapi sayangnya saya tidak bisa membiarkan Anda menang.” Komentar ini menunjukkan pengakuan atas kemampuan Chimaev, namun juga tekad Du Plessis untuk menjinakannya—sesuatu yang pada akhirnya tidak berhasil ia lakukan.
Meskipun Chimaev sempat berjuang dengan ketidakaktifan (hanya empat laga dalam tiga tahun terakhir), kini dengan statusnya sebagai juara, ia pasti akan lebih sering terlihat di oktagon. Dunia menanti siapa yang akan berani melangkah maju dan mencoba merenggut sabuk dari “Serigala” yang paling menakutkan ini.
Kesimpulan
Khamzat Chimaev telah membuktikan dirinya bukan hanya sebagai fenomena, tetapi sebagai juara paling ngeri UFC di divisi kelas menengah. Dengan rekor tak terkalahkan, gaya bertarung yang dominan, dan kepribadian yang karismatik namun kontroversial, ia telah mengubah lanskap persaingan. Reputasinya sebagai petarung yang membuat lawan diklaim ogah menghadapinya mungkin tidak sepenuhnya salah, mengingat bagaimana ia menggilas setiap lawan yang datang.
Era baru di kelas menengah UFC telah dimulai, dan semua mata tertuju pada “Borz”. Siapa pun penantang berikutnya, satu hal yang pasti: pertarungan melawan Khamzat Chimaev tidak akan pernah mudah, dan ia akan selalu menjadi ancaman yang harus diperhitungkan. Apakah ada yang berani menantang “Serigala” ini? Waktu yang akan menjawab!