Harapan yang Merana di Old Trafford: Apa Sebenarnya yang Terjadi pada Kobbie Mainoo di Manchester United?

Dipublikasikan 29 Agustus 2025 oleh admin
Olahraga

Yogyakarta, zekriansyah.com – Bagi para penggemar Manchester United, nama Kobbie Mainoo adalah secercah harapan. Gelandang muda berbakat ini musim lalu tampil memukau, bahkan mencetak gol penentu di final Piala FA dan menembus skuad Timnas Inggris untuk Euro 2024. Namun, di awal musim 2025/2026 ini, situasi Kobbie Mainoo justru berbalik 180 derajat. Ia terpinggirkan, frustrasi, dan masa depan Kobbie Mainoo di Old Trafford kini diselimuti kebuntuan.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa bintang muda kesayangan Setan Merah ini tiba-tiba menjadi “pemain buangan” dan apa saja yang memicu rumor transfer Kobbie Mainoo yang semakin kencang menjelang penutupan bursa transfer. Mari kita selami lebih dalam dilema sang wonderkid.

Dari Bintang Muda ke Bangku Cadangan: Apa yang Terjadi pada Kobbie Mainoo?

Musim 2024/2025 adalah panggung bagi Kobbie Mainoo. Di bawah asuhan Erik ten Hag, ia menjelma menjadi pilar lini tengah, tampil 32 kali, mencetak lima gol, dan menunjukkan performa yang stabil. Puncaknya, ia bahkan membela Inggris di Euro 2024 dan tampil solid di hampir setiap laga penting. Sebuah perjalanan karier yang meroket bagi pemain berusia 20 tahun.

Namun, kedatangan pelatih baru, Ruben Amorim, membawa perubahan drastis. Di dua laga awal Premier League musim ini, nama Mainoo sama sekali tidak tercantum dalam starting XI, bahkan belum sekalipun diberi menit bermain. Raut wajahnya yang murung di pinggir lapangan setelah laga melawan Fulham dan Chelsea menjadi cerminan nyata frustrasi Mainoo. Ia kini hanya menjadi penonton, sebuah skenario yang jauh dari harapan setelah musim debut yang gemilang.

Konflik Kontrak dan Gaji: Akar Masalah Lain?

Minimnya waktu bermain bukan satu-satunya pemicu kegelisahan Mainoo. Masalah kontrak juga turut memperkeruh situasi Kobbie Mainoo di Manchester United. Mainoo meneken kontrak empat tahun pada Februari 2023 dengan gaji sekitar £20.000 per pekan, standar untuk pemain akademi. Setelah performa impresifnya, ia tentu berharap ada kenaikan gaji yang signifikan, bahkan disebut-sebut hingga sepuluh kali lipat.

Sayangnya, negosiasi kontrak baru ini terhenti. Klub enggan mengabulkan permintaannya, sebagian karena tekanan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR). Sebagai produk akademi, penjualan Mainoo akan menghasilkan keuntungan bersih yang sangat membantu keuangan klub. Inilah yang membuat Manchester United sempat terbuka untuk melepasnya dengan harga sekitar £45 juta, jauh di bawah angka £70 juta yang pernah mereka pasang.

Taktik Ruben Amorim: Mainoo Tak Punya Tempat?

Di bawah Ruben Amorim, perubahan taktik menjadi faktor krusial yang menyingkirkan Mainoo. Amorim lebih sering menggunakan Bruno Fernandes di lini tengah, dan kedatangan pemain seperti Matheus Cunha serta Bryan Mbeumo juga mengubah dinamika skuad. Mainoo sempat dicoba di berbagai posisi — pivot, nomor 10, hingga false nine — namun tak ada yang cocok dengan skema yang diinginkan Amorim.

Pelatih asal Portugal itu secara terbuka menyatakan bahwa Mainoo harus bersaing dengan Bruno Fernandes untuk mendapatkan tempat.

“Saya punya harapan yang besar pada Kobbie Mainoo, dan orang-orang berpikir bahwa lebih baik memberikannya kesempatan secara cuma-cuma,” ujar Amorim. “Saya pribadi merasa sangat penting bagi Kobbie untuk berjuang mendapatkan tempatnya di tim ini. Jadi saya menaruh harapan besar baginya.”

Namun, bagi pihak di sekitar Mainoo, masalahnya bukan hanya persaingan, melainkan juga minimnya komunikasi spesifik dari Amorim. Kurangnya arahan detail membuat pemain muda seperti Mainoo kebingungan, merasa potensinya tidak dimanfaatkan maksimal.

Opsi Transfer: Permanen atau Pinjaman?

Dengan bursa transfer musim panas yang akan ditutup pada 30 Agustus 2025, Kobbie Mainoo dihadapkan pada pilihan sulit. Ia dikabarkan telah meminta manajemen klub untuk dipinjamkan demi mendapatkan menit bermain yang konsisten. Alasan utamanya adalah ambisinya untuk tetap bersaing di tim nasional Inggris, terutama menjelang Piala Dunia 2026.

Meskipun Mainoo tidak berniat hengkang permanen, Manchester United awalnya dikabarkan terbuka untuk menjualnya. Sejumlah klub besar Eropa seperti Bayern Munchen, Bayer Leverkusen, Tottenham, Chelsea, Real Madrid, dan Atletico Madrid disebut-sebut menaruh minat. Namun, Fabrizio Romano mengklaim bahwa MU tidak akan mengizinkan Mainoo pergi, baik secara pinjaman maupun permanen, karena menganggapnya aset penting untuk jangka panjang.

Ini menciptakan kebuntuan yang nyata: Mainoo ingin bermain, Amorim menuntut persaingan ketat, dan klub ingin mempertahankan aset berharganya namun juga mempertimbangkan aspek finansial.

Momen Krusial di Persimpangan Karier

Kobbie Mainoo kini berada di persimpangan jalan karier yang sangat penting. Dari harapan besar akademi Manchester United, ia kini menghadapi situasi yang penuh kebuntuan. Apakah ia akan bertahan dan berjuang keras untuk merebut kembali tempatnya di bawah Ruben Amorim, ataukah ia akan mencari panggung baru demi menjaga asa di Timnas Inggris?

Keputusan yang akan diambil dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan masa depan Kobbie Mainoo dan, tidak berlebihan jika dikatakan, juga akan menjadi cerminan dari arah strategi Manchester United di bawah manajemen dan pelatih barunya. Mari kita nantikan bersama bagaimana drama gelandang muda MU ini akan berakhir sebelum bursa transfer ditutup.