Yogyakarta, zekriansyah.com – Siapa yang tidak terpesona dengan kebangkitan Marc Marquez di lintasan MotoGP? Sejak bergabung dengan Ducati, performanya seperti roket yang melesat. Podium demi podium diraih, bahkan dominasi di MotoGP 2025 membuatnya jadi sorotan utama. Tak heran, bos Ducati pun melayangkan pujian setinggi langit dan berharap “Si Semut dari Cervera” ini bertahan sampai pensiun.
Namun, di tengah euforia dan harapan besar dari Borgo Panigale, ada bisikan-bisikan menarik: keinginan bos Ducati dikesampingkan Marc Marquez mau punya agenda dan perhitungan sendiri. Apakah ini pertanda bahwa sang juara dunia delapan kali punya rencana besar yang mungkin berbeda dari harapan timnya saat ini? Mari kita selami lebih dalam.
Pujian Melambung dari Markas Ducati: Harapan Agar Marquez Bertahan Selamanya
Dari hari ke hari, Marc Marquez terus menunjukkan bahwa ia adalah aset berharga bagi Ducati. General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat motor Ducati diinginkan oleh seorang juara dunia delapan kali. Davide Tardozzi, Manajer Tim Ducati, bahkan secara terang-terangan berharap Marquez tetap di Ducati sampai akhir kariernya.
Bayangkan saja, Marquez yang bergabung dengan tim pabrikan Italia itu, berhasil memenangi 17 dari 22 balapan dalam 11 seri MotoGP 2025. Tujuh seri di antaranya disapu bersih, baik di balapan pendek maupun grand prix. Dengan performa seperti ini, memimpin klasemen dengan selisih poin yang jauh, wajar jika Ducati ingin mempertahankannya mati-matian. Mereka melihat Marc Marquez sebagai jaminan juara dunia kesembilan.
Di Balik Senyum Ducati: Marc Marquez Punya “Perhitungan Lain”
Meskipun Ducati sangat menginginkan Marquez, rupanya sang pembalap punya perhitungan lain yang mungkin tidak selalu sejalan seratus persen dengan keinginan tim. Contoh paling jelas terlihat dari pernyataan terkait pesta juara. Sementara bos Ducati mungkin berharap pesta juara dirayakan di kandang Valentino Rossi, Marc Marquez punya pandangan berbeda, bahkan menyebut GP Indonesia sebagai lokasi yang mungkin lebih cocok untuk penobatan juara dunia.
Ini menunjukkan bahwa Marquez, dengan segala pengalamannya, tidak sekadar menjadi bagian dari sistem. Ia adalah pemikir strategis yang punya tujuan dan cara pandang sendiri dalam setiap aspek kariernya, baik di dalam maupun di luar lintasan.
Kecerdikan Marquez di Lintasan: Bukan Sekadar Ikut Aturan
Salah satu momen yang membuktikan kemandirian berpikir Marc Marquez adalah strategi cerdasnya di MotoGP Thailand 2025. General Manager Ducati Corse, Luigi Dall’Igna, bahkan terpukau dengan kecerdikan Marquez dalam menghadapi tantangan balapan.
Pada lap ke-7, Marquez sengaja melambatkan laju motornya untuk membiarkan saudaranya, Alex Marquez, menyalip. Taktik ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi brilian untuk mengakali aturan tekanan ban yang ketat. Dengan memanfaatkan slipstream dari Alex, Marquez bisa menjaga kecepatan dan tekanan ban sesuai aturan, menghindari penalti 16 detik.
Ini bukan hanya kemenangan, tetapi demonstrasi akan kemampuan Marc Marquez untuk berpikir di luar kotak, bahkan di bawah tekanan tinggi, demi mencapai tujuan. Kecerdikan seperti ini mungkin kadang membuat keinginan bos Ducati dikesampingkan jika ia melihat ada jalur yang lebih optimal.
Kekuatan Tawar Marc Marquez: Pintu Lain Selalu Terbuka
Fakta bahwa Marc Marquez adalah pembalap top dengan daya saing tinggi memberinya kekuatan tawar yang luar biasa. Kontraknya dengan Ducati (hingga akhir 2026 untuk tim pabrikan) memang solid, namun dunia MotoGP selalu dinamis. Tim lain pun sudah siap siaga.
CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, secara terbuka menyatakan Aprilia siap menampung Marc Marquez jika memang ia tidak cocok atau ditolak oleh Ducati untuk musim depan (2025). Ini adalah kartu truf yang kuat di tangan Marquez. Tim-tim lain seperti KTM juga disebut-sebut tertarik.
Mengapa Tim Lain Menginginkan Marquez?
- Ambisi Gelar Juara Dunia: Marquez dikenal sangat ambisius. Tim mana pun yang menawarkan peluang terbaik untuk meraih gelar juara dunia akan menjadi prioritas utamanya.
- Daya Saing Motor: Marquez selalu mencari motor yang paling kompetitif dan tim dengan struktur pendukung yang solid.
- Dukungan dan Atmosfer Tim: Lingkungan yang positif dan mendukung sangat penting bagi performa Marquez.
- Faktor Personal: Hubungan baik dengan tim, lokasi, dan kenyamanan pribadi juga akan menjadi pertimbangan.
Tantangan Harmoni di Garasi Ducati: Peringatan dari Tardozzi
Meskipun Marc Marquez sangat dihargai, keberadaannya di tim pabrikan Ducati bersama Francesco Bagnaia juga membawa potensi tantangan. Davide Tardozzi sempat memberikan peringatan dari bos Ducati terkait potensi ketegangan di garasi tim. Tardozzi meyakini Gigi Dall’Igna adalah sosok yang tegas dan tidak akan ragu mengambil sikap jika terjadi masalah antara Marquez dan Pecco Bagnaia.
Ini adalah salah satu area di mana keinginan Marc Marquez mungkin harus disesuaikan demi harmoni dan kepentingan tim secara keseluruhan. Ducati, bagaimanapun juga, adalah Ducati, dan mereka akan menjaga stabilitas internal.
Kesimpulan: Sang Juara Tentukan Arah Sendiri
Pada akhirnya, kisah Marc Marquez di Ducati adalah cerminan dari seorang juara sejati yang memiliki visi dan ambisi kuat. Meskipun bos Ducati sangat ingin mempertahankannya dan melimpahkan pujian, Marc Marquez mau terus mengejar apa yang terbaik baginya, entah itu strategi balapan cerdik, pilihan perayaan juara, atau bahkan keputusan penting tentang masa depannya di dunia MotoGP.
Dukungan kuat dari Ducati memberinya panggung untuk bersinar, tetapi kekuatan tawarnya, kecerdasannya di lintasan, dan opsi-opsi yang tersedia membuatnya memiliki kendali penuh atas arah kariernya. Masa depan Marc Marquez akan terus menjadi sorotan, dan satu hal yang pasti: ia akan selalu menjadi penentu nasibnya sendiri.