Yogyakarta, zekriansyah.com – Musim Super League 2025/2026 baru saja bergulir, namun tantangan berat sudah membayangi Arema FC. Badai cedera menghantam, ditambah beberapa pilar penting harus absen karena panggilan tim nasional. Situasi ini tentu membuat pusing kepala pelatih Marcos Santos. Namun, jangan salah, sang juru taktik asal Brasil ini ternyata miliki senjata ampuh untuk sikapi cederanya para pemain dan menjaga performa Singo Edan tetap di jalur.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, siapkan taktik rotasi pemain jitu untuk atasi badai cedera dan maksimalkan potensi skuad jelang musim 2025/2026.
Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana strategi pelatih Arema Marcos Santos dalam menghadapi kondisi sulit ini, mulai dari rotasi cerdas hingga memaksimalkan potensi skuad yang ada. Mari kita selami lebih dalam taktik di balik layar yang membuat Arema FC tetap optimis.
Badai Cedera Menguji Kedalaman Skuad Singo Edan
Baru berjalan tiga pekan, Arema FC sudah harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Salah satu pilar penting, Achmad Maulana, divonis cedera ACL yang membuatnya absen semusim penuh. Ini adalah kerugian besar, mengingat Maulana tengah dalam performa terbaiknya di lini belakang.
Tak berhenti di situ, Arkhan Fikri dan Salim Tuharea juga harus meninggalkan tim untuk bergabung dengan Timnas Indonesia U-23. Kehilangan dua pemain kunci ini jelas akan menggerus kekuatan serangan Singo Edan. Belum lagi, beberapa pemain seperti Valdeci Moreira, Matheus Blade, Betinho sempat membutuhkan perawatan akibat kelelahan pasca-laga berat. Jayus Hariono, Odivan Koerich, dan Julian Guevara juga dilaporkan cedera, menambah panjang daftar pemain yang harus dipantau ketat. Kondisi ini benar-benar menguji kedalaman skuad Arema FC.
Senjata Rahasia Marcos Santos: Rotasi Cerdas dan Kepercayaan Penuh
Di tengah tekanan dan daftar cedera yang mengkhawatirkan, pelatih Arema FC Marcos Santos tak kehilangan akal. Ia justru menunjukkan bahwa ia miliki senjata ampuh untuk mengatasi situasi ini.
Memaksimalkan Potensi Pemain Pengganti dan Muda
Salah satu strategi pelatih Arema yang paling terlihat adalah kemampuannya memaksimalkan pemain yang ada. Ketika Achmad Maulana harus menepi, Marcos Santos tak panik. Ia segera mengoptimalkan opsi yang tersedia, seperti Bayu Seriawan.
Yang menarik, Rifad Marabessy yang sempat tak terlihat, ternyata baru saja kembali dari dinas TNI dan langsung disiapkan untuk mempertebal lini full back. Ini adalah “amunisi” tak terduga yang sangat berharga. Marcos juga tak ragu memberi kepercayaan pada pemain muda. Contohnya, Dwiki Mardiyanto yang kaget saat diminta pemanasan dan akhirnya merasakan debut di Super League.
“Saya tidak menyangka bakal bisa bermain. Namun, selama latihan, saya merasa berlatih keras dan alhamdulillah diberi kesempatan bermain oleh head coach,” ungkap Dwiki Mardiyanto, menunjukkan kepercayaan yang diberikan pelatih.
Adaptasi Skema Permainan Tanpa Pilar Utama
Dengan absennya Arkhan Fikri dan Salim Tuharea yang selama ini menjadi motor serangan, Marcos dihadapkan pada tugas berat untuk mengotak-atik skema permainan Arema FC. Ini bukan sekadar mengganti pemain, melainkan merancang ulang taktik agar kekuatan tim tetap terjaga.
Pelatih asal Brasil ini fokus mencari komposisi terbaik yang bisa menutupi lubang yang ditinggalkan para pemain absen, memastikan Arema FC tetap kompetitif dan memiliki daya gedor yang efektif meskipun tanpa kehadiran pilar utamanya.
Manajemen Kebugaran dan Mentalitas Juara
Satu lagi senjata ampuh yang tak kalah penting adalah fokus pada manajemen kebugaran pemain. Dengan jadwal kompetisi yang padat dan laga yang menguras energi (seperti bermain 10 orang melawan PSIM), pemulihan fisik menjadi krusial. Marcos Santos menekankan pentingnya rotasi dan istirahat yang cukup agar pemain tidak tumbang karena kelelahan.
Selain fisik, mentalitas juara juga terus dipupuk. Pemain baru seperti Luiz Gustavo bahkan merasakan kuatnya ikatan kekeluargaan di tim yang membantunya beradaptasi cepat, menunjukkan semangat pantang menyerah Singo Edan dalam menghadapi setiap pertandingan.
Menghadapi Kontroversi: Sisi Humanis Sang Pelatih
Selain tantangan teknis di lapangan, pelatih Arema FC juga diuji dalam situasi non-teknis, seperti insiden yang melibatkan Paulinho Moccelin dan pemain Timnas Indonesia, Ole Romeny, di Piala Presiden 2025. Ketika Paulinho melakukan tekel keras yang menyebabkan cedera engkel pada Ole Romeny, Marcos Santos dengan sigap mengambil tanggung jawab.
Ia dan Paulinho langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Ole Romeny.
“Itu bagian dari pertandingan. Saya sudah minta maaf, Paulinho juga minta maaf,” kata Marcos Santos, menunjukkan kepemimpinan dan sisi humanisnya.
Sikap ini menunjukkan bahwa pelatih Arema tidak hanya piawai dalam taktik, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam sikapi cederanya pemain lawan akibat insiden di lapangan, sekaligus meredakan tekanan dari publik dan menjaga sportivitas.
Kesimpulan
Melalui berbagai tantangan di awal Super League 2025/2026, pelatih Arema FC Marcos Santos menunjukkan bahwa ia benar-benar miliki senjata ampuh sikapi cederanya pemain dan menjaga stabilitas tim. Dengan kombinasi rotasi cerdas, kepercayaan pada pemain muda dan pengganti, adaptasi taktik, manajemen kebugaran yang ketat, serta kepemimpinan yang humanis, Singo Edan siap menghadapi setiap rintangan.
Perjalanan masih panjang, namun dengan strategi yang solid dan semangat juang yang tinggi, Arema FC optimis bisa melewati badai cedera ini dan meraih hasil positif di musim ini. Para Aremania tentu berharap taktik jitu sang pelatih akan membawa tim kesayangan mereka terbang tinggi.