Yogyakarta, zekriansyah.com – Musim kompetisi Premier League 2025/2026 baru saja bergulir, tapi aroma persaingan dan tekanan sudah sangat terasa. Di liga sepak bola paling kompetitif di dunia ini, sedikit saja salah langkah bisa berakibat fatal, terutama bagi para manajer. Klub-klub top menghabiskan jutaan poundsterling untuk skuad impian, dan ekspektasi yang tinggi kerap menjadi pedang bermata dua.
Tekanan tinggi mewarnai awal musim 2025/2026 Premier League, dengan sejumlah manajer kini terancam pemecatan dini akibat performa yang belum sesuai ekspektasi.
Tak heran jika isu pemecatan pelatih selalu menjadi topik hangat. Beberapa manajer bahkan sudah dijagokan menjadi yang pertama kehilangan pekerjaannya di musim ini. Siapa saja mereka? Mari kita telusuri lebih dalam mengapa posisi mereka begitu rawan, dan apa saja tantangan yang harus mereka hadapi.
Mengapa Tekanan Manajer Begitu Cepat Memuncak?
Di Premier League, waktu adalah kemewahan yang jarang dimiliki manajer. Ada beberapa faktor yang membuat kursi panas seorang pelatih bisa goyang hanya dalam hitungan pekan:
- Ekspektasi Tinggi: Klub-klub Premier League, baik raksasa maupun tim papan tengah, selalu mematok target tinggi. Finis di posisi Eropa, bertahan di liga, atau bahkan meraih gelar, semua itu membutuhkan hasil instan.
- Investasi Besar: Jendela transfer musim panas seringkali menjadi ajang belanja besar-besaran. Pemain baru mahal didatangkan, dan jika performa tim tidak segera membaik, manajer akan menjadi sasaran pertama kritik.
- Sorotan Media dan Suporter: Setiap kekalahan atau hasil imbang yang mengecewakan akan langsung jadi santapan media dan memicu kemarahan suporter. Tekanan dari luar lapangan ini bisa sangat membebani.
- Sifat Kompetitif Liga: Tidak ada pertandingan mudah di Premier League. Setiap tim punya potensi untuk saling mengalahkan, membuat konsistensi menjadi kunci utama.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sejarah Premier League penuh dengan cerita manajer yang harus angkat kaki di tengah jalan, bahkan sebelum tahun baru tiba.
Daftar Manajer yang Paling Rawan Dipecat di Premier League 2025/2026
Berdasarkan performa awal musim dan tekanan yang mereka hadapi, inilah lima manajer yang paling mungkin menjadi yang pertama mengucapkan selamat tinggal pada kursi kepelatihan mereka di Premier League:
1. Ruben Amorim (Manchester United)
Nama Ruben Amorim menjadi sorotan utama setelah awal musim yang sangat mengecewakan bersama Manchester United. Musim lalu, Setan Merah mencatat finis terburuk dalam sejarah klub, yaitu di posisi ke-15. Meskipun manajemen telah memberikan dukungan penuh dan mendatangkan pemain baru seperti Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Benjamin Sesko, performa tim belum juga membaik.
Bahkan, Amorim sempat menawarkan diri untuk mundur tanpa kompensasi di musim panas ini, sebuah sinyal keputusasaan yang mengkhawatirkan. Dua laga awal MU di liga tidak membuahkan kemenangan, kalah dari Arsenal dan ditahan imbang Fulham. Legenda klub, Wayne Rooney, secara terang-terangan memberikan ultimatum:
“Tidak ada alasan lagi bagi manajer musim ini. Hasil harus datang, dan cepat. Kalau situasi tak berubah drastis, tekanan akan muncul sejak Oktober atau November.”
Dengan rekor hanya 28 poin dari 29 laga liga sejak ditunjuk November lalu, posisi Amorim di Old Trafford kian genting.
2. Graham Potter (West Ham United)
Graham Potter memulai musim 2025/2026 bersama West Ham United dengan sangat buruk. Timnya menelan dua kekalahan telak dan kebobolan delapan gol dalam laga awal, termasuk kekalahan 3-0 dari tim promosi dan 5-1 dari Chelsea. Hasil ini menunjukkan masalah serius dalam skuad Hammers.
Meskipun co-owner klub, Karen Brady, menyatakan dukungan untuk Potter, tekanan dari suporter dan media terus meningkat. Jika tren negatif ini berlanjut, posisi manajer asal Inggris itu akan sangat terancam. Potter harus segera menemukan formula yang tepat untuk membalikkan keadaan di London Stadium.
3. Nuno Espirito Santo (Nottingham Forest)
Musim lalu, Nuno Espirito Santo berhasil membawa Nottingham Forest tampil mengesankan, finis di posisi ketujuh dan meraih tiket ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam beberapa musim. Namun, di Premier League, prestasi masa lalu tidak menjamin masa depan.
Kabar terbaru mengindikasikan bahwa manajemen klub sudah mulai mempertimbangkan masa depan Santo, padahal liga baru berjalan dua pertandingan. Ini menunjukkan betapa rentannya posisi manajer asal Portugal tersebut. Dengan ekspektasi yang kini lebih tinggi setelah lolos ke Eropa, Nuno harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan kepercayaan klub dan suporter.
4. Scott Parker (Burnley)
Setelah promosi ke Premier League, Burnley kini dipimpin oleh Scott Parker. Parker menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa timnya mampu bersaing di level tertinggi liga. Meskipun ia telah berupaya memperkuat lini pertahanan setelah kepergian Vincent Kompany, kehilangan kiper James Trafford menjadi pukulan telak.
Awal musim yang sulit menjadi ujian nyata bagi strategi pertahanan ketat yang diusungnya. Kemenangan atas Sunderland memang memberi sedikit harapan, namun jadwal berat menghadapi tim-tim papan atas seperti Manchester United, Liverpool, dan Manchester City akan menjadi penentu apakah Parker mampu membawa Burnley bertahan di liga.
5. Keith Andrews (Brentford)
Keith Andrews merupakan nama baru di jajaran manajer kepala Premier League, setelah dipromosikan dari pelatih set-piece Brentford menggantikan Thomas Frank yang pergi ke Tottenham. Debutnya penuh tantangan, terutama setelah Brentford kehilangan pemain kunci seperti Bryan Mbeumo dan Christian Norgaard.
Tugas Andrews adalah menjaga performa tim agar tidak menurun drastis dari musim sebelumnya. Kemenangan melawan Aston Villa memang memberikan waktu bernapas bagi sang pelatih. Namun, ini hanyalah permulaan, dan Andrews harus segera menemukan cara untuk membuat timnya konsisten di tengah badai kehilangan pemain penting.
Siapa yang Akan Bertahan? Mampukah Mereka Membalikkan Keadaan?
Dunia Premier League adalah panggung drama tanpa henti, di mana nasib seorang manajer bisa berubah dalam sekejap. Tekanan yang mereka hadapi sangat besar, dan hanya hasil positif yang bisa menjadi penyelamat. Lima nama di atas sedang berada di ujung tanduk, dan setiap pertandingan ke depan akan menjadi penentu apakah mereka bisa membalikkan keadaan atau justru menjadi manajer Premier League yang paling cepat dipecat musim ini.
Kemampuan adaptasi, strategi jitu, dan dukungan tim menjadi kunci bagi mereka untuk bertahan. Kita tunggu saja, siapa yang akan menjadi korban pertama dari kerasnya kompetisi Liga Inggris 2025/2026 ini.
Kesimpulan
Tak bisa dimungkiri, Premier League selalu menyajikan persaingan yang kejam, terutama bagi para manajer. Dengan awal musim 2025/2026 yang penuh gejolak, nama-nama seperti Ruben Amorim, Graham Potter, Nuno Espirito Santo, Scott Parker, dan Keith Andrews berada di garis depan daftar manajer yang paling rawan dipecat. Tekanan tinggi, hasil mengecewakan, dan ekspektasi yang melambung adalah resep sempurna untuk perubahan di kursi kepelatihan. Hanya waktu yang akan menjawab, siapa di antara mereka yang mampu bertahan dan membuktikan diri, atau siapa yang harus lebih dulu mengakhiri petualangan mereka di kompetisi paling sengit ini.