Menkes Tinjau KLB Campak Sumenep: Target Tuntas 2 Minggu, Ajak Warga Lawan Hoaks Vaksinasi

Dipublikasikan 29 Agustus 2025 oleh admin
Kesehatan

Yogyakarta, zekriansyah.comSumenep, Jawa Timur – Kabar kurang menyenangkan datang dari Kabupaten Sumenep, Madura, yang tengah menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Menyikapi situasi ini, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, turun langsung ke lapangan pada Kamis, 28 Agustus 2025. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya serius untuk memastikan penanganan KLB campak Sumenep berjalan maksimal dan efektif. Artikel ini akan membahas poin-poin penting dari kunjungan Menkes, mulai dari urgensi situasi hingga langkah-langkah strategis yang diambil untuk melindungi masyarakat.

Menkes Tinjau KLB Campak Sumenep: Target Tuntas 2 Minggu, Ajak Warga Lawan Hoaks Vaksinasi

Menteri Kesehatan meninjau langsung penanganan KLB Campak di Sumenep, menargetkan tuntas dalam dua minggu sambil mengimbau warga waspada terhadap hoaks vaksinasi.

Kunjungan Langsung Menkes: Memastikan Penanganan Optimal

Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama jajarannya melakukan kunjungan kerja ke Sumenep untuk memantau langsung penanggulangan KLB campak. Beliau didampingi oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi krisis kesehatan ini.

Dalam kunjungannya, Menkes meninjau beberapa lokasi penting:

  • TK-PAUD Qurrota A’yun: Memantau langsung pelaksanaan imunisasi massal atau Outbreak Response Immunization (ORI).
  • RSI Garam Sumenep: Meninjau kondisi pasien campak yang sedang dirawat.
  • Rumah pasien sembuh: Bersilaturahmi dan memastikan pemulihan berjalan baik.

Tujuan utama kunjungan ini jelas: memastikan setiap langkah penanggulangan berjalan sesuai standar, memberikan arahan strategis, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi mengendalikan penyebaran penyakit ini secepatnya.

Campak: Penyakit Mematikan yang Sangat Menular

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa campak bukanlah penyakit biasa. “Campak itu adalah penyakit yang paling menular,” tegasnya. Ia bahkan membandingkannya dengan COVID-19. Jika COVID-19 bisa menularkan ke 2-3 orang dari satu kasus, campak bisa menularkan ke 18 orang! Ini menunjukkan betapa cepatnya virus campak menyebar.

Yang lebih mengkhawatirkan, campak juga bisa berakibat fatal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, sejak awal 2025 hingga 27 Agustus 2025, kasus campak di Sumenep mencapai 2.321 penderita. Dari jumlah tersebut, 20 anak dilaporkan meninggal dunia. Angka ini menjadi peringatan keras akan bahaya campak jika tidak ditangani dengan serius.

Target Ambisius: KLB Campak Tuntas dalam Dua Minggu

Melihat urgensi situasi, Menkes Budi Gunadi Sadikin menetapkan target yang ambisius namun krusial: penanganan KLB campak Sumenep harus tuntas dalam waktu dua minggu. “Saya sudah diskusi dengan Pak Bupati, kita usahakan selesai dalam dua minggu,” ujarnya.

Untuk mencapai target ini, Kemenkes telah mengirimkan 11.000 vial vaksin campak ke Madura. Dengan kapasitas satu vial untuk delapan anak, stok ini lebih dari cukup untuk mengimunisasi sekitar 80.000 anak di Sumenep. Langkah utama yang ditekankan pemerintah adalah imunisasi massal. “Dua minggu semua anak-anak di Kabupaten Sumenep ini, semuanya kita imunisasi,” tegas Menkes.

Menkes juga mengapresiasi respons cepat Pemerintah Kabupaten Sumenep, khususnya Bupati Achmad Fauzi, yang segera menggelar imunisasi massal di seluruh wilayah. Hingga 28 Agustus, 16.242 anak telah menerima vaksin campak melalui program ORI yang dimulai sejak 25 Agustus 2025.

Melawan Hoaks dan Membangun Kesadaran Masyarakat

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan campak adalah maraknya hoaks seputar vaksinasi. Menkes Budi dengan tegas mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh berita bohong yang menyesatkan.

“Sekarang kan banyak berita-berita WhatsApp mengenai jangan imunisasi, jangan vaksinasi. Teman-teman, itu sangat berbahaya dan jahat. Karena kita lihat sampai meninggal 20 anak, hanya gara-gara masyarakat diteror berita-berita itu,” kata Budi.

Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat, tenaga kesehatan, dan lintas sektor. Masyarakat diimbau proaktif mengenali gejala campak seperti demam dan ruam. Menkes juga mewacanakan pendirian laboratorium diagnosis campak di Madura agar deteksi kasus bisa lebih cepat tanpa harus mengirim sampel ke Surabaya. Ini akan mempercepat penanganan jika ditemukan satu saja kasus, sehingga imunisasi bisa langsung dilakukan di kecamatan terkait.

Kesimpulan

Kunjungan Menteri Kesehatan ke Sumenep menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah dalam mengatasi KLB campak Sumenep. Dengan target penyelesaian dua minggu, didukung pasokan vaksin yang memadai, serta upaya serius melawan hoaks, diharapkan imunisasi campak massal dapat berjalan lancar. Mari bersama-sama mendukung program ini demi melindungi anak-anak kita dari bahaya campak dan memastikan Sumenep segera terbebas dari status KLB.