Yogyakarta, zekriansyah.com – Dunia sepak bola Indonesia sedang diramaikan dengan kabar kurang sedap dari tim kebanggaan Sulawesi, PSM Makassar. Menjelang bergulirnya Liga 1 musim baru, tim berjuluk Juku Eja ini menghadapi serangkaian masalah yang cukup mengkhawatirkan, terutama bagi stabilitas lini belakang mereka. Bukan hanya satu, tapi ada tiga ancaman serius yang siap mengganggu persiapan dan performa Pasukan Ramang.
Ancaman sanksi FIFA dan masalah internal hantui lini belakang PSM Makassar, mengancam persiapan tim jelang musim baru Liga 1.
Para penggemar tentu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Artikel ini akan mengupas tuntas tiga masalah besar yang mengancam kekuatan pemain belakang PSM Makassar dan bagaimana dampaknya bagi perjalanan mereka di kompetisi teratas Indonesia. Mari kita telusuri bersama.
Sanksi FIFA: Larangan Transfer Pemain Bikin Pusing Juku Eja
Kabar paling mengejutkan datang dari Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). PSM Makassar dijatuhi sanksi FIFA berupa larangan mendatangkan pemain baru dalam tiga periode bursa transfer. Ancaman ini muncul setelah ada laporan dari tiga pemain yang merasa dirugikan terkait masalah administrasi, seperti pembayaran gaji atau kompensasi pemutusan kontrak.
Akar Masalah dari Tiga Laporan Pemain
Menurut laporan yang beredar, sanksi ini mulai berlaku pada tanggal-tanggal penting di tahun 2025: 28 Maret, 19 Mei, dan 21 Mei. Ini berarti, PSM Makassar tidak akan bisa merekrut wajah-wajah baru untuk memperkuat skuadnya hingga larangan tersebut dicabut.
Tentu saja, kondisi ini sangat memberatkan. Apalagi, Juku Eja sudah melepas beberapa pemain seperti Nermin Haljeta dan Latyr Fall. Dengan adanya larangan transfer ini, kemampuan tim untuk menambal posisi yang kosong, terutama di lini belakang, menjadi sangat terbatas. Para bek yang dipertahankan seperti Yuran Fernandes, Aloisio Neto, Victor Luiz, Daffa Salman, Sulthan Zaky, Dimas Sukarno, dan Mufli Hidayat akan menjadi tumpuan utama dan dituntut untuk tampil lebih solid lagi.
Insiden 12 Pemain: Ganjaran Berat Setelah Laga Kontroversial
Selain sanksi FIFA, PSM Makassar juga harus menerima kenyataan pahit akibat insiden kontroversial di laga pekan ke-16 Liga 1 2024/2025 melawan Barito Putera. Dalam pertandingan yang seharusnya dimenangkan dengan skor 3-2 itu, PSM kedapatan bermain dengan 12 pemain di lapangan pada menit-menit akhir.
Kronologi Pemain Ke-12 di Lapangan
Insiden ini terjadi pada menit ke-90+8 ketika pelatih PSM, Bernardo Tavares, melakukan tiga pergantian pemain sekaligus. Sayangnya, ada kesalahan koordinasi atau miskomunikasi, di mana pemain Syahrul Lasinari yang seharusnya keluar, masih tetap berada di lapangan. Sementara itu, pemain pengganti sudah masuk.
Barito Putera yang merasa dirugikan langsung melayangkan protes keras, bahkan sampai mengunggah bukti video di media sosial. Meskipun PSM Makassar sempat mengklarifikasi bahwa pergantian pemain sudah sesuai arahan wasit cadangan, Komite Disiplin (Komdis) PSSI tetap menindaklanjuti kasus ini.
Dampak Pahit: Poin Dikurangi dan Denda Menanti
Keputusan Komdis PSSI pun akhirnya turun. PSM Makassar dinyatakan kalah 0-3 dari Barito Putera dan yang lebih parah, mereka juga dijatuhi hukuman pengurangan 3 poin dari klasemen sementara Liga 1. Tak hanya itu, Juku Eja juga harus membayar denda minimal Rp90 juta.
Akibat keputusan ini, PSM Makassar kehilangan total 6 poin dari satu pertandingan (3 poin karena dinyatakan kalah dan 3 poin lagi karena sanksi pengurangan). Posisi mereka di klasemen pun merosot tajam. Ini jelas menjadi pukulan telak yang tidak hanya memengaruhi posisi di tabel, tapi juga mental dan semangat tim, terutama bagi para pemain belakang yang harus menanggung beban lebih berat.
Bayangan Utang Gaji: Masalah Klasik yang Pernah Menghantui
Meskipun bukan masalah yang baru-baru ini terjadi, bayangan utang gaji pemain adalah isu klasik yang pernah menghantui PSM Makassar dan bisa menjadi akar dari masalah administrasi yang memicu sanksi FIFA saat ini. Pada tahun 2021, Juku Eja pernah terancam dilarang mengikuti BRI Liga 1 jika tidak melunasi tunggakan gaji kepada 17 pemainnya.
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) saat itu, Akhmad Hadian Lukita, bahkan menegaskan bahwa sanksi bisa berupa larangan mendaftarkan pemain dalam tiga periode transfer, yang berarti tim bisa absen dua musim kompetisi. Meskipun masalah tersebut akhirnya berhasil diselesaikan, insiden ini menunjukkan bahwa PSM Makassar memiliki riwayat tantangan finansial dan administrasi yang bisa berulang dan berujung pada masalah serius seperti larangan transfer saat ini.
Kesimpulan: Lini Belakang PSM Makassar dalam Ujian Berat
Situasi PSM Makassar saat ini memang tidak main-main. Dengan sanksi FIFA yang melarang transfer pemain baru di tiga periode bursa, ditambah pengurangan poin dan denda Rp90 juta akibat insiden 12 pemain, serta bayangan masalah administrasi di masa lalu, lini belakang PSM Makassar berada dalam ujian yang sangat berat.
Para bek yang ada harus bekerja ekstra keras dan menjaga konsistensi performa, karena tidak ada lagi opsi untuk merekrut bantuan baru. Bagaimana PSM Makassar akan menghadapi tantangan ini dan menjaga pertahanan mereka tetap kokoh? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, dukungan penuh dari suporter setia akan sangat dibutuhkan untuk melewati masa-masa sulit ini. Semoga Juku Eja mampu bangkit dan membuktikan ketangguhan mereka!